WISATA ROHANI

Bagi Anda yang tinggal di Jawa Tengah, tentu mengenal Masjid Menara Kudus, di Kudus, dengan menara yang juga menjulang tinggi. Namun, menara masjid ini juga bukan yang tertinggi di Jawa Tengah, karena di kota Semarang kini ada masjid yang memiliki menara sangat tinggi, yakni Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Ketinggian menara MAJT mencapai 99 meter, sesuai dengan 99 asmaul husna

Semasa hidupnya Sunan Kudus telah berjasa mendirikan sebuah Masjid Agung di Kota Kudus, yang kemudian kita kenal dengan sebutan Masjid Menara Kudus.
Jika ditilik dari batu tulis yang terletak di atas tempat pengimaman masjid, yang bertuliskan dan berbahasa Arab (hurufnya mulai sukar dibaca karena banyak yang rusak) menunjukkan bahwa masjid ini dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 956 H.
Batu itu berperisai dengan ukuran panjang 46 sentimeter dan lebar 30 cm. Kalau tanpa perisai panjang 41 cm dan lebar 23,5 cm. Konon batu ini berasal dari Kota Baitulmakdis (Al Quds ) di Yeruzalem (Darussalam) Palestina. Dari kata Baitulmakdis itulah asal-muasal nama “Kudus” yang berarti suci.

MENARA KUDUS
Menara Kudus adalah bangunan tua yang terbuat dari batu bata merah berbentuk Menara yang merupakan hasil akulturasi kebudayaan Hindu-Jawa dan Islam. Menara Kudus bukanlah bangunan bekas Candi Hindu melainkan menara yang dibangun pada zaman kewalian / masa transisi dari akhir Kerajaan Majapahit beralih ke zaman Kerajaan Islam Demak. Bentuk konstruksi dan gaya arsitektur Menara Kudus mirip dengan candi-candi Jawa Timur di era Majapahit sampai Singosari misalnya Candi Jago yang menyerupai menara Kulkul di Bali. Menara Kudus menjadi simbol “Islam Toleran” yang berarti Sunan Kudus menyebarluaskan agama Islam di Kudus dengan tetap menghormati pemeluk agama Hindu-Jawa yang dianut masyarakat setempat.
Kapan Menara Kudus dibangun? Diperkirakan Menara Kudus ini berasal dari abad 16, dibangun oleh Syeh Ja’far Shodiq (Sunan Kudus, salah seorang dari Wali Songo). Ditiang atap Menara terdapat sebuah candrasengkala yang berbunyi “Gapura rusak ewahing jagad”. Menurut Prof. DR RM Soetjipto Wirjosoepano, candrasengkala ini menunjukkan Gapuro ( 6 ), Rusak ( 0 ), Ewah ( 6 ) dan Jagad ( 1 ) yang di dalam bahasa jawa dibaca dari belakang sehingga menjadi 1609 yang bermakna Menara dibangun pada tahun Jawa 1609 atau 1685 M.

Leave a response and help improve reader response. All your responses matter, so say whatever you want. But please refrain from spamming and shameless plugs, as well as excessive use of vulgar language.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s